Jumat, 29 Januari 2016

Cerpen : Teroris (Karya Nurlaela)



       Laki-laki  jangkung  berkulit  sawo matang dengan rambut tergerai–gerai  melintas di depan sekelompok remaja yang sedang menghabiskan malamnya di gardu yang letaknya di belokan jalan masuk  atau disebut juga gang.  
        “ Eh Ji! Mau kemana?” Laki-laki jangkung itu seperti tidak peduli dan berusaha menghindari.  “ Weh , ini urusanku ya. Emang mau apa kau nanya-nanya? “ Tarmuji yang katanya saat ini kuliah di ISIF (Institut Studi Islam Fahmina ) Cirebon, akhir-akhir ini dia tidak lagi ikut nongkrong di depan gardu. Semua teman-temannya merasa kehilangan so karena dialah yang paling asyik untuk diatur-atur gitu. Ha...ha..haa tepatnya dikerjain, dijailin, dikibulin alias kacung. Sehari-hari dia membantu ibunya di pasar yang jualan lontong sayur. Tarmuji biasa membantu ibunya: mencuci piring dan mangkuk kotor bekas pembeli, ia juga biasa membantu ibu mengupas sayur mayur seperti terong, timun atau labu  atau harus membantu ibu membeli bumbu masak yang kurang . Tarmuji adalah anak yang patuh pada Ibunya.
         Malam ini meski tak ada Tarmuji tapi Kombeng alias Komar, Loleng alias salam, masih setia menemani aku asal saja ada gudang garam merah dan secangkir kopi Bro!. Jadi kita nongkrong. Kita memang pengaguran terselubung. Gaul itu perlu untuk tambah wawasan kita. Iyakan? Coba kalau kita Cuma di rumah apa tahu ada cewek berhijab tiap hari lewat depan gardu aja gak bakal tahu. Apalagi identitasnya.Kalau gaulkan bisa dapat info dari sana- sini. Kita patungan cari info tentang tuh gadis. Walhasil   siapa yang bisa nembak duluan itu lain persoalan yang penting nich ada usaha. Biar tidak dibilang laki-laki cemen!.
        “ Tuh... lihat setiap malam kayak gini, kerjaan dia ada aja. Emang dia mau jadi apa setelah kuliah? Sarjana aja udah banyak,  kerjanya jual sandal cepit dipasar Senin. Akh!, koplak alias gak encer otaknya. Mending kayak kita begini, makan tinggallah makan , minum tinggallah minum, tidurpun sudah dirapihkan pulang malam-malam, Uang tinggal bilang....sialnya kalo dapat omelan tapi anggap aja OSPEK mirip Tarmuji biar tahan bantingan” Komar yang meliahat sehari-hari Tarmuji mulai jarang dirumah bersungut-sungut.
         “Beng, ngomong- ngomong nih bagaimana kalau kita samperin si Tarmuji di rumahnya.Yuk!”
         “ Sekali ini yah !” Salam rupanya merasa kurang seru juga selama ini karena tidak ada yang jadi tumbal kekonyolannya. Persahabatan kita hampir lewat tiga tahun  sejak kelas dua SLTA kita membuat Geng Reparasi yang tujuannya ngumpulin tuh anak gang yang kerjanya nongkrong di Wanet terus seharian. Ibu-ibu semua kagum sama kita, karena  jadwal makan mereka jadi teratur. Tidak hanya itu anak-anak mereka juga rajin ngaji di musholla. Kalau urusannya musholla akhirnya jadi biangnya malas. Komeng yang juara adzan di SMA nya saja masih dibilang kurang betul melafalkan lafadz Akbar ketika beradazan, apalagi aku siKardun alias Khaeruddin yang baru kenal ngaji karena wajib bisa baca Al Qur’an di SMA dulu , itupun aku belajar dari  Salam. Dari pengalaman itulah aku mau ngajak anak-anak disekitarku untuk mengaji dari pada Warnetan teruskan kasian , Otaknya kagak jalan. Main digit teruss badan sampai tak terurus, mandi kagak, makan kagak. Itu keluhan dari ibu – ibu waktu itu. Sekarang malah kita yang terasing dimushollah.
         “ Malas, udah banyak orang pinter ,bu” Suatu hari aku ditanya oleh salah satu ibu yang dulu anaknya ngaji sama kita.
         “ Betul, kita cuma bisa  surat Al fatihah aja udah berlagu.Maaf-maaf deh, bu”. Kita sebenarnya asyik bersama anak-anak mereka. Kita juga yang mengajarkan disiplin untuk datang ke musholla tepat waktu. Mengaji, sholat, dan belajar kelompok setiap usai sholat dzuhur. Yang punya PR diselesaikan bersama setelah itu baru boleh main game bersama.Tarmujilah yang punya laptop waktu itu. Tarmuji walaupun bukan anak STM tapi jago reparasi barang-barang elektro yang suka bantuin ibu-ibu juga.  Nah...itu laptop adalah barang bekas yang dihibahkan berkat tangan dinginnya Tarmuji kita bisa membahagiakan anak-anak. Makanya mereka sangat menyayangkan kita.
         “ Bagaimana kalau Tarmuji tidak mau lagi gaul bareng kita. Diakan sudah punya kesibukan tidak seperti kita wiraswasta” dalih Komar yang rumahnya berdekatan dengan Tarmuji.
            “Hah, apaan sih loe, Beng. Pengangguran aja ngaku wiraswasta”aku kurang suka.
         “Hus! Tidak usah berdebat. Itu etika kita, jangan pasrah sama keadaan. Meski pengangguran jangan mencolok mata. Nanti mau lho,disedekahin?” Salam berkilah. Aduh –aduh repotnya penganguran yang berpendidikan masih aja mikir adat, gak punya masih ogah menerima sedekah. Beda bangetkan sama mereka yang tidak mengecam pendidikan ketika mereka sebagai pengangguran biasanya cukup meresahkan. Panjang tangan, Tawuran , belum juga ngisengin anak orang.
     “Ya sudah, mari kita samperin di rumahnya sekarang!”ajak Komar bersemangat.Tanpa mengucapkan salam kita bertiga sudah masuk , dan sedikit berisik saling menyalahkan.
         “ Kagak sopan loe!” aku bersungut-sungut tak enak hati masuk rumah orang tanpa permisi. Begini-begini dulu jadi aktivis musholla.Aku membatin.
         “ Udah, bodo amat kita udah terlambat”. Salam membela diri. Sementara Komeng tampak heran mengapa rumah ini sangat sepi. Lamat-lamat terdengar suara ibu Ningsih tebatuk –batuk dari dalam kamarnya.
          “ Silahkan masuk saja.Tunggu, sebentar lagi Tarmujinya datang”
          “ Oalah... ibu Ningsih masih mengenali bau-bau kita!” Celoteh salam.Komeng menyikut tubuhku.Tampak kesal rautnya. Hah, aku berjingkat-jingkat. Kita sepakat menunggu sampai bertemu Tarmuji.
          “ Kita bakal reunian”. Bermalam minggu disini . Tak apa aku tak melihat Lastri lewat biasanya jam –jam ini gadis berjilbab itu masuk gang melewati gardu tempat tongkrongan kami. Kabarnya dia punya kegiatan mengeles anak-anak di tangga desa.Tak berapa lama Tarmujipun datang.
          “ Assalaamu’alaikum....,ada acara apaan nich. Sudah lama ya,kalian menunggu?.Maaf, ayo kita pindah keteras saja biar enak ngobrolnya. Kasihan ibuku sedang kurang enak badan”. Tarmuji menanggalkan petnya.  Lalu tangannya dengan sigap menuangkan air putih disetiap gelas-gelas dihadapannya.
          “ Ini pola hidup sehat bermula dari air putih. Gaya hidup irit bukan pelit.Setujukan?”Tarmuji kini seperti sedang mendikte. Tapi bernada kelakar juga. Kami terheran-heran dan bingung. Pemikiran untuk mengajak gabung di tongkrongan tiba-tiba padam. Kami semua terdiam. Asing dan segan.
            “ Ayo , diminum seadanya. Ini kue satu terbuat dari bahan nomer satu di Indonesa , kacang hijau. Kalau ini kamu pasti tahu ini nastar kacang tanah”. Inilah cara Tarmuji mencairkan kebekuan malam itu. Akhirnya karena kue-kue ini keakraban yang merenggang serasa disatukan kembali. Kami bersatu dalam gelak dan tawa. Suasana yang menyenangkan kembali aku rasakan jadi, sebenarnya gardu tempat tongkrongan kita adalah satu-satunya tempat yang bisa menyatukan pemikiran-pemikiran kita yang muncul dari kekecewaan dan jauh dari harapan.Madesu (Masa depan suram) adalah bukan cita-cita dan harapan kita dulu.Tapi menjadi orang yang bergunapun, bagaimana caranya. Majelis Marhabanan  kita dibubarkan katanya bid’ah. Pengajian anak-anak najis tidak tahu bersuci, Tahlilan katanya kafir karena mengharapkan syafaat dari kanjeng Nabi Muhammad, apalagi Ziarah kubur syirik besar .  Apa yang bisa kita lakukan? Pendidikan kita hanya SLTA . Kita bukan kiyai, pejabat, atau konglomerat. Kami tak punya dalil-dalil  dan teori yang pas untuk berdebat dengan mereka.
           “ Menurutmu bagaimana Ji?”  aku, Kardun bersuara karena serasa  hidupku semakin tak berguna dan rasa kagum pada Tarmuji. Dia tenang tapi bicaranya meyakinkan.
        “ Yang begituan tidak usah diurusi, Urusi diri sendiri. Kita mau kemana? Dan bagaimana?”jawab Tarmuji enteng.
             “ Lho, bukannya kita juga sedang memikirkan nasib kita dan apa yang harus kita lakukan? Kita berbuat baik saja dicemooh orang, didebat, difitnah dan disakiti. Diam saja seperti ini diamarah-marahin pak RT katanya kita nih sampah masyarakat. Lalu kita bagaimana Ji? Loekan sekarang udah pinter bantu aku dong, masa kamu tega melihat kita begini” Komar nyerocos panjang lebar. Sementara aku dan Salam hanya mengiyakan. Mengaguk-anggukkan kepala saja.
             “ Iya, bagus itu. Hari ini persoalan itu tidak bisa diselesaikan. Kita butuh waktu banyak, nanti kita bicara lagi. Munculkan pikiran positif yang membuatmu semangat , Bro!” tangannya menyambar kaos yang masih tergantung di kapstok luar lalu , membungkus sebagian wajah dan kepalanya  lalu mengikatnya kebelakang.
              “ Maaf, saatnya saya harus keluar lagi. Kita bisa ketemu lagi. Okey, Bro..., aku tinggal dulu ya’’ . Sepeda bututnya dikayuh kencang. Tak habis pikir melihat sikap dan prilaku Tarmuji saat ini, malam-malam begini dia masih saja ada urusan. Paling-paling para dedemit yang mau melayani.
            Dengan rasa kecewa kami menuju tempat tongkrongan kembali. Pembahasan kita kali ini sikap-sikap yang mencurigakan dari prilaku Tarmuji tadi. Sepertinya dia sudah yakin benar jadi orang. Maksudku sepenting apakah hingga dia tidak sungkan-sungkan meninggalkan kami.
           “ Betul, kita harus waspada. Akhir-akhir ini ada banyak mahasiswa yang tercuci otaknya dan dimanfaatkan oleh oknum untuk kepentingan golongan radikal”aku berargumen.
           “ Maksudmu Teroris?” mata salam terbelalak, celingukan tidak karuan.
           “ Iya , Pao!!, masih tanya. Enggak update amat”. Komar mulai ganas.
           “ Kalau begitu kita punya pekerjaan berat. Bayangkan saja kita adalah anggota gabungan yang mengincar dia. Kita selidiki  dan kau bisa ikuti kapan dia keluar...?”
           “ Lalu pekerjaan ini siapa yang mau gaji?, kurang kerjaan akh! Aku ogah.” Salam keberatan.
            “ Otakmu harus disumbat pake roti baru maju”Komar semakin geram.“ Bagaimana mau memecahkan persoalan kita sendiri kalau buat perut sejam saja masalah melulu dengan kamu” sambungnya.
           “ Sudah jangan adu otot lagi , kita belajar berfikir kerja pake otak. Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui apa saja yang menjadi kesibukannya selama ini” aku melerai Komeng dan Salam yang bersitegang.
          “ Tapi tujuan awal kita hanya ingin mengajak Tarmuji mau nongkrong, minum kopi bareng kita. Bukan pekerjaan macam detektif gitu. Kalau ini namanya persoalan serius”
             “ Iya , lalu maumu bagaimana?”tanyaku masih bersabar.
         “ Ajak aja dia nongkrong dengan kita. Kalau tidak mau ...ya sudah. Selesai gak ada urusan peduli amat entah dia teroris, atau dia sedang  merencanakan sesuatu, pembawa bom bunuh diri kek, otaknya semua berisi jihad kek”
           “ Nah , orang macam ini yang perlu dibumi hanguskan. Kenapa , jadi tidak lagi mau mengakui Tarmuji itu sahabatmu tho? ” akhirnya terpancing juga emosiku. Aku pergi meninggalkan Komeng dan Loleng. Hari ini amat menyebalkan bagiku.
           Kutinggalkan teman-temanku dan kususuri jejak sepeda Tarmuji. Jalan berkelok-kelok sampai menuju sebuah sumur tua.Waduh..., apa betul ini jalan yang dilalui Tarmuji barusan , jejak ban sepeda menggelinding satu arah di jalan yang becek.Tapi apakah betul hanya dia yang melewatinya malam ini. Hatiku penuh tanya. Langkahku terhenti. Aku berfikir , selama ini penduduk kampung Asri sudah tidak lagi bergantung pada sumur Tua yang ada di tengah persawahan itu. Hanya kadang-kadang jika kemarau panjang beberapa penduduk menimba airnya untuk minum dan kegiatan rumah tangga lainnya. Dulu hampir semua penduduk dalam kegiatan cuci mencuci akan mendatangi sumur itu. Lalu  apa yang dilakukan Tarmuji malam –malam begini ke arah persawahan yang tidak biasanya dilakukan oleh penduduk ini. Rasa penasaran ini semakin mendorongku untuk cepat menemukannya. Kususuri jalan setapak dalam kegelapan. Terlihat dari kejauhan lampu senter berubah-ubah arah. Aku mengikuti arah sumber cahaya itu.Jalanku terseok-seok dan licin diatas pematang . Tubuh menjulang itu merambat menjauh dari kejaranku dan menuju sebuah dangau kecil. Pohon besar tampaknya seperti raksasa yang siap menghadang kehadiranku. Akan memangsaku, huh... aku bergidik. Siapa pula orang yang ada dalam dangau itu? Aku melihat sekelilingnya tampak sebuah benda yang aku kenal . Ya, sepeda Tarmuji tersandar di pohon itu. Aku girang.
          Aku mulai memberanikan diri menghampiri dangau itu. Sreetttt....! Cahaya lampu senter mengarah ke kakiku.
          “ Hai ,Din Mau kemana malam-malam begini?”Tarmuji terus mengasah pedangnya yang panjang .
            Aku agak jauh berdiri. Untuk apa pula ia mengasahnya.
         “ Silahkan duduk. Mana teman-teman yang lain?. Hari-hariku aku bertempur dengan kadaan. Din , aku mau bersusah payah ini demi meraih kemerdekaan, yah kemerdekaan yang dulu diraih bangsa kita dengan susah payah kini digadaikan dengan hutang-hutang luar negeri. Bayi yang baru lahir kemarin saja sudah memikul beban hutang negara, kalau ini yang terjadi, kapan kita akan sejahterah. Aku punya cara agar beras tidak lagi mahal harganya. Kau tahu ibuku hampir seumur hidup berjualan lontong, Harga beras akhir- akhir ini tidak terbeli ibuku, karena harga naik turun tidak karuan. Ibuku sakit-sakitan lelah memikirkan perputaran modal dan keuntungan. Sementara bubur sayur ibuku tetap dua ribu rupiah. Coba kau pikirkan apa yang membuat aku mengolah sendiri tanah warisan kakekku ini?, bertahun-tahun lahan ini disewakan berkali-kali ia panen aku... dan ibuku sebiji beraspun tak merasakan manisnya rasa dan harum wanginya beras sendiri. Berton- ton beras yang mereka panen bukan lagi untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat kita, mereka tergiur dengan harga, menimbunnya sampai musim panen berikutnya. Sementara, Ibuku dapat pasokan beras Bulog yang harganya sama dengan pasar, kau tahu... itu beras subsidi mengapa Raskinpun harus diper jual dibelikan?”Aku terdiam mendengar ocehanya yang seakan tidak memberi ruang jeda.
         “ Yah... bagaimana lagi, aku tidak usah mikir kayak gitu lagi, Sing penting ana duite to?, repot kayak ngono”. Aku mulai nyeleneh.
        “ Masalahnya itu. Nilai Rupiah kita rendah, nilai nominal dengan nilai tukar tidak seimbang. Apa berarti uang sepuluh ribu?  Sekarang mau minum saja kita pakai pajak .....”. Kata-katanya terputus, dalam keremangan lampu senternya dia seperti berpikir dalam.
         “ Sudahlah merubah sistem itu sulit, kita mulai dari diri kita apa yang bisa kita lakukan agar tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain. Ketahanan pangan kita tidak pantas jebol dan ditutup-tutupi oleh luar negeri. Dimana mereka punya lahan persawahan seluas negeri ini, Ironis bukan? Ilfiil dan mustakhil kita tak berdaya”.
       “ Besok ada kumpulan menggalang Pemuda Desa untuk pembaruan desa kita kamu bisa ajak teman-teman ke Balai Tani”.
       Matahari mulai condong ke barat, sudut desa Asri tampak semakin indah. Taman  mulai menghijau dialun-alun sebagai  jantung kota harapan entah mungkin sepuluh tahun yang akan datang , Setelah  aku menjabat Gubernur paling tidak  Kepala Desa paling muda. Aku terbuai dalam impian Tarmuji yang berhati mulia dan benar-benar cerdik. Kini aku mulai minat membolak-balikakan brosur pendaftaran mahasiswa baru ISIF yang katanya mengedepankan Riset dan Transformasi Sosial. Wajah Lastri gadis yang selalu aku idam-idamkan selama ini akan menjadi motifasiku untuk maju selangkah. Yah, ernyata gigihnya tak kurang dari Tarmuji sebagai laki-laki. Lincahnya dia memandu acara siang tadi membuatku iri berdampingan dengan Tarmuji.
         “ Sudah malu ya, nongkrong di gardu? Tidak pengen ganggu dia lagi?”aku memecah sunyi. Ternyata Lastri itu teman  Tarmuji,  aktifis mahasiswi ISIF.
             “  Iya, aku malu, kurang kerjaan”Komeng mulai jernih otaknya.
         “ Aku juga. Berarti dugaan kita selama ini salah, kenapa tiba-tiba mencurigainya Teroris. Ha...ha...ha... termakan keadaan sekarang”. Tawa salam membahana di ujung langit. Meneriakkan sebuah kemenangan atas jalan yang harus dipilih untuk mengantar kita kegerbang masa depan. Kami bersemangat mengusir gelar pak RT yang disandangkan dipundak sampah masyarakat. Sangat setuju bahwa kita belajar dari siapa saja, dari orang dianggap lemah dan remeh sekalipun.[]
             
 *) Nurlaela, mahasiswa ISIF Prodi PAI semester 3

Selasa, 24 November 2015

Panduan SKRIPSI Sarjana ISIF 2015


https://www.facebook.com/download/453931221460790/Jadual%20Perkuliahan%20Semester%207%20PAI%2C%20ES%2C%20AT.rar



Cirebon: Kota dalam Etalase
Oleh Sep Andry*

Hari itu adalah hari yang terlalu biasa. Jam 11.40 WIB, tepat ketika matahari lurus-vertikal di atas ubun-ubun, Kota Cirebon terbuat dari lalu-lalang kendaraan, bau knalpot, suara bising, dan udara bersuhu 31˚C. Satu kondisi yang hanya pemilik mental nabi yang melaluinya tanpa keluh kesah dan sumpah serapah.
Tapi saya, seperti juga masyarakat Cirebon yang lain adalah manusia biasa. Berada di jalanan kota cirebon di jam-jam rawan kehilangan sabar macam itu aneh rasanya kalau tidak sambil menggerutu, memencet klakson panjang ketika terjebak macet, atau marah-marah ke sopir angkot yang seenaknya berhenti di tengah jalan.
Di situ saya jadi ingat pernyataan seorang pejabat pemerintah Kota Cirebon di salah satu media. Konon menurut dia, kota Cirebon sekarang sedang bergegas menjadi kota besar. Berbagai proyek pembangunan sudah dan sedang dilakukan. Kemudian ia melanjutkan pernyataannya dengan nada keimanan yang kaffah: “kemacetan dan kesemerawutan di beberapa ruas jalan Cirebon adalah tanda bahwa kota ini akan menjadi kota besar”. Setelah membaca itu saya hanya bisa berharap, semoga tanda-tanda kiamat tidak makin banyak.
Yang pasti, saya tidak berniat mencari hubungan ilmiah apalagi hubungan gaib antara kemajuan kota dan kemacetan sebagai indikatornya. Rasanya, tukang riset sekelas alumni ISIF pun akan kewalahan kalau harus meneliti itu. Tapi bagaimanapun, wajah Cirebon di media menyoal rencana pembangunan jauh lebih optimis dan menjanjikan ketimbang realitasnya.
Membaca cirebon di media-media lokal, dengan segala macam rencana pembangunannya, ibarat menyaksikan iklan perumahan ala Feni Rose di Metro TV: menjanjikan hunian nyaman, akses yang mudah, fasilitas lengkap, dan berbagai macam hal baik lainnya yang bisa kita semua rasakan. Nalar advertorial memang paling bisa menghibur dan menjanjikan: Melihat sedikit kebaikan dari satu hal, membesar-besarkannya, kemudian menihilkan hal-hal buruk yang menyertainya. Bagian ini, media lokal kita jagonya.
Sejauh ini media lokal kita tak lebih dari sehimpun advertorial yang genit menggembar-gemborkan pembangunan kota Cirebon, dengan mengutip data sana-sini, namun minim analisa apalagi rasa.
Tentu butuh lebih dari nalar advertorial untuk terus mengawal arah pembangunan kota Cirebon. Juga tak mungkin mengandalkan media lokal kita yang mentok pada gaya penulisan ala zaman kompeni (straight news) dengan kutipan-kutipannya yang kering analisa, kering rasa. Ketika membaca, saya membayangkan wartawan kita menulis berita-beritanya dengan wajah polos tanpa dosa, dengan tatapan kosong sedikit ngantuk, sambil sesekali ketawa jahat: Mirip pengidap psikopat yang kurang ngopi.
Sedangkan di luar sana, yang mereka tulis sebagai pembangunan tengah berlangsung dengan suka cita: setiap minggunya, ada lebih dari 2 hektar tanah kota Cirebon berubah menjadi hamparan beton dan etalase. Sampai 2014 saja, lebih dari 1600 hektar dari 3800 hektar luas keseluruhan kota Cirebon yang sudah dijadikan pusat perdagangan dan jasa (BAPPEDA KOTA CIREBON, Kompas.com). Dan tentu jumlah tersebut masih terus bertambah di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, mengingat syahwat bangun-membangun pemerintah kota kita masih meluap-luap dan tak terkendali. Persis anak sma yang baru liat bokep.
Terhitung tahun lalu saja (2014) tak kurang dari 15 investor yang sudah mengantri dan bersedia menginvestasikan uangnya di kota Cirebon (DPUPESDM Kota Cirebon, kompas.com). Tercatat ada lebih dari 94 ajuan untuk penggunaan lahan dan yang sudah mendapat ijin ada 47 ajuan, yakni 23 hotel dan 22 perumahan (BAPPEDA, Data 2013). Itu semua data shahih, keluar dari mulut pemerintah kita dengan nada bangga tingkat dewa.
Selesai di angka itu? Belum! Ada proyek senilai Rp.38 triliun untuk menyangga kegiatan bangun-membangun di kota ini: tol Cipali (Cikopo-Palimanan) (Rp.12,56 T), yang konon menjadi tol terpanjang di negeri ini. Kemudian proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, di Kabupaten Majalengka (25,4 T) yang memakai lahan 5000 hektar. Dua proyek itu lah yang akan memberi akses penuh bagi percepatan pembangunan di kota Cirebon. Bahkan jauh lebih cepat sebelum kita lupa bahwa ada pejabat di kota ini yang merasa telah tinggal di kota besar saat terjebak macet.
Setiap kota adalah manifestasi dari peradaban. Ia adalah konsekuensi logis dari hasil dialog antara berbagai elemen yang membangunnya, entah itu masyarakat, lingkungan hidup, kehidupan sosial-ekonomi-politik, dan tentunya sejarah sebagai akar yang menjalar-erat-kan hari ini dengan masa lalu. Dari situ lah logika pembangunan semestinya bertolak.
Menerjemahkan pembangunan kota hanya sebatas tembok dan beton hanya akan memisahkan kota dengan masyarakatnya, masyarakat dengan lingkungannya, serta lingkungan dengan sejarahnya. Elemen-elemen kota akan remuk akibat benturan kepentingan pemodal. Sudah semestinya pembangunan di kota Cirebon memiliki keberpihakan kepada masyarakat dan ruang hidup yang melingkupinya. 
Karena bagaimanapun, Kota adalah ruang materi sekaligus non-materi bagi orang-orang yang menghuni di dalamnya. Ia tidak hanya bentangan lahan ataupun seperangkat ornamen sebagai penanda kebudayaan dan geliat peradaban suatu tempat saja. Namun, kota juga merupakan suatu lanskap bagi imajinasi para penghuninya: tempat kita secara intim bersentuhan dengan realitas hidup kita, mengenalinya, dan turut menentukan arah perubahan yang akan terjadi.
Namun berada jalan utama kota ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, dikepung oleh hiruk pikuk lalu lintas dan gegap gempita proyek pembangunan membuat saya sadar, kota ini tengah bergegas menjadi sesuatu yang asing. Kita seperti tidak lagi hidup di dalam kota, tapi di dalam etalase: yang segalanya bisa di jual, termasuk ruang hidup kita sebagai masyarakat kota. []


*Mahasiswa ISIF, jurusan Filsafat Agama

Rabu, 11 November 2015

Mengenang Pengalaman Diperlakukan sebagai Sang Liyan di Sekolah



Mengenang Pengalaman
Diperlakukan sebagai Sang Liyan di Sekolah

Oleh : Kinanti Suarsih*)

 Tidaklah mudah menjadi seseorang yang diperlakukan sebagai liyan di tempat kita menjalani kehidupan sehari-hari. Apalagi hal itu terjadi pada masa remaja pada saat menempuh pendidikan yang hasilnya diharapan menjadi bekal menyongsong masa depan. Hidup bahkan menjadi terasa sangat berat manakala para guru, pendidik yang kita hormati, justru terus-menerus memperlakukan kita secara berbeda hanya karena kita menganut keyakinan yang berbeda.
Semua berawal saat aku memasuki bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)  di kampung halamanku di Kabupaten K. Sebenarnya aku selalu menganggap sekolah sebagai rumah kedua. Rasa seperti itu muncul sejak aku duduk di bangku SMP. Aku selalu menganggap para guru sebagai orangtua kedua dan teman-teman sekolah sebagai kakak-adikku sendiri.  Namun apa jadinya jika di rumah kedua itu, selama tiga tahun beberapa guru memandang dan memperlakukanku secara berbeda “hanya” karena aku menganut keyakinan yang berbeda? Pengalaman itu menancap kuat pada ingatanku bahkan kesadaranku hingga hari ini.

Aku, Sunda Wiwitan
Hari Senin, 16 Juli tahun 2012 adalah hari pertama aku masuk sekolah baru. Aku menyambut hari itu dengan antusias. Bagiku bertemu teman-teman dan guru baru selalu menjadi hal yang mengesankan. Aku yakin hal yang sama juga terjadi pada banyak remaja seusiaku.
 Namun kenyataan berbicara lain. Berbeda dengan teman-teman lain yang menurutku mendapatkan kesan manis pada hari pertama bersekolah, aku justru mendapatkan hal sebaliknya. Semua dimulai ketika seorang guru yang kemudian menjadi wali kelas memasuki kelas kami. Aku masih ingat, saat itu perhatianku terus tertuju kepada beliau. Aku juga ingat pelajaran pertama yang beliau kerjakan di kelas setelah mengucapkan salam dan selamat datang: perkenalan.
Ada yang menarik perhatian kami ketika acara perkenalan berlangsung. Setelah menyebutkan nama sesuai dengan urutan yang ada pada buku presensi --kami menyebutnya daftar absen-- Wali Kelas menanyakan hobi atau kesukaan siswa yang dikenalkan. Perkenalan dimulai dengan cara memanggil siswa yang namanya dimulai dengan huruf A. Namaku sendiri dimulai dengan huruf K sehingga harus menunggu giliran sesuai abjat.
Tibalah giliran itu. Sama seperti siswa lain aku ingin namaku dipanggil kemudian diperkenalkan dan ditanya hobi atau kesukaanku. Aku juga sudah menyiapkan jawaban.  Itu wajar karena setiap siswa pasti ingin diakui keberadaannya di sekolah. Tapi dalam sekejap aku mulai merasakan keanehan. Terasa terjadi perbedaan perlakuan. Kepadaku Wali Kelas mengajukan pertanyaan lebih dibandingkan pertanyaan untuk siswa lain. Beliau tidak hanya menanyakan hobi atau kesukaanku, tetapi juga bertanya, “Apakah aku bukan Muslim?” Mungkin pertanyaan itu beliau ajukan karena cara berpakaianku. Aku tidak mengenakan kerudung seperti siswi lain.
“Apa keyakinanmu?” lanjut beliau. Aku mulai seperti diinterogasi. “Keyakinan saya Sunda Wiwitan, Pak,” jawabku sambil diam-diam melemparkan pandanganku ke teman-eman sekelas. Seluruh isi kelas tampak seperti keheranan. Itu terlihat pada wajah mereka. Anehnya keheranan mereka menular padaku. Aku juga merasa terkejut sekaligus terheran-heran. Apa yang salah pada jawabanku? Sejak duduk di SD hingga SMP tak pernah kutemui wajah seperti itu setelah aku mengatakan bahwa aku penganut Sunda Wiwitan.
Sunda Wiwitan? Itu mungkin pertanyaan yang ada di benak mereka ketika itu. Tapi akhirnya aku segera sadar bahwa diriku sedang berada di lingkungan orang-orang yang belum tahu adanya orang-orang yang memiliki keyakinan seperti kami.
Setelah kejadian itu banyak pertanyaan yang diajukan guru dan teman-teman. Aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan tenang. Kuakui pada satu sisi aku merasa senang memberikan jawaban atas  pertanyaan mereka. Tapi pada sisi lain aku merasa seperti alien yang baru turun ke bumi. Sunda Wiwitan itu apa? Memang ada agama seperti itu? Apa kitabnya? Di mana dan bagaimana cara beribadahnya? Bahkan jenis makanan yang kami konsumsi pun mereka tanyakan.
Sunda Wiwitan, kataku mulai menjawab pertanyaan, merupakan keyakinan masyarakat Sunda yang masih menjaga tradisi leluhurnya. Sebagian kalangan, kataku melanjutkan, menyebut kepercayaan kami sebagai agama lokal. Kami menyembah Tuhan Yang Mahaesa (YME). Kemudian untuk pertanyaan yang menyangkut tempat ibadah, aku  menjawabnya dengan ringkas bahwa kami bisa beribadah di mana saja dan kapan saja, setiap waktu. Sedang terkait dengan jenis makanan, aku menjawab singkat. “Sama seperti kalian, kami  juga makan nasi. Aku sama seperti kalian,” jelasku sambil tersenyum.


Mengambil Hati Guru
Hari-hari selanjutnya aku bertemu dengan guru-guru lain yang mengajar di kelas kami. Ketika itu aku sudah siap. Pasti akan ada pertanyaan lagi tentang keyakinanku. Ada hari yang membuatku tak akan bisa melupakan satu peristiwa  yang terjadi  seumur hidupku. Peristiwa itu adalah pertemuanku dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Guru Pkn! Saat mengawali perkenalan, tanpa asap tanpa api, Guru PKn tiba-tiba memanggilku dengan panggilan “Konghucu”. Saat itu aku tidak bisa menangkap maksudnya. Setelah memanggilku demikian, beliau bertanya apa agamaku. Aku menjawab singkat, “Sunda Wiwitan, Pak.” Sampai di situ tak ada pertanyaan lagi.
Tetapi pada pertemuan selanjutnya Guru PKn itu selalu memanggilku “Konghucu!”. Tindakan guru itu terus berlangsung hingga aku duduk di kelas tiga. Sering aku berpikir mungkin guru itu hanya ingin membuat lelucon atau membuat nama panggilan khusus untuk membuat suasana lebih akrab. Aku berusaha berpikir positif. Namun kemudian aku tahu bahwa semua murid yang tidak memakai kerudung beliau panggil dengan nama “Konghucu”.
Ketidakpahamanku berlanjut. Puncaknya terjadi saat sekolah menyelenggarakan acara halal bihalal di sekolah. Saat itu semua guru dan siswa sudah berkumpul di halaman sekolah. Setelah melewati berbagai acara seremonial tibalah kami pada acara saling memaafkan, antara guru dan siswa. Tak terkecuali aku. Tetapi saat giliranku bersalaman dengan Guru PKn, “ketu jutan” kembali terjadi. Ketika dengan hormat kedua tangan kuulurkan untuk bersalaman, beliau bertanya “Apakah Konghucu boleh bersalaman dengan yang lain?” katanya dengan sedikit tersenyum. Tapi senyuman itu tak dapat kupahami. Entah kenapa sejak itu aku tidak menyukai tindakan beliau. Aku langsung meninggalkan halaman sekolah. Bergegas ke kelas dengan hati tak karuan. Kelak ketika aku duduk di perguruan tinggi baru kupahami mengapa aku tidak menyukai tindakan beliau.
Sore harinya sepulang sekolah aku bercerita kepada orangtuaku tentang kejadian itu. Kedua orangtuaku sempat terbawa suasana cerita. Namun akhirnya mereka menasihatiku agar tidak menanggapi tindakan Guru Pkn dengan cara yang sama. Aku diminta tetap  bersikap santun dan hormat, dan tidak membuat masalah bertambah rumit. Aku terima nasihat kedua orangtuaku. Hari-hari selanjutnya aku selalu berusaha belajar dengan baik dan bertindak sopan. Meskipun hingga kelas tiga, Guru PKn itu tetap memanggilku “Konghucu” aku tetap bersikap sopan dan hormat kepada beliau.

Menjadi berguna melalui Seni Tari
Sejak terus-menerus menerima perlakuan sebagai liyan yang tidak diterima oleh beberapa guru, aku berpikir keras dan mencari cara agar keberadaanku diakui dan dihargai. Aku merasa belum cukup hanya dengan bertindak sopan. Harus berbuat lebih. Kegiatan ekstra kulikuler (eskul) Karawitan dan Seni Tari bisa menjadi jembatan. Dengan sadar aku memilih ekskul ini.
Di ekskul ini aku berlatih lebih keras dibandingkan teman-temanku. Apalagi aku sangat suka menari. Di komunitas Sunda Wiwitan, seni tari adalah salah satu kegiatan yang menurut pemahamanku menjadi salah satu budaya yang dirawat dengan baik. Bagi kami, khusunya kaum perempuan Sunda Wiwitan, seni tari adalah salah satu bagian dari budaya inti yang dirawat dengan baik.
Aku memang menerima informasi bahwa keberadaan eskul Karawitan masih dipersoalkan di sekolah.  Informasi yang kuterima menyebutkan bahwa belum semua koordinator  ekskul menerima kehadiran bidang yang satu ini. Konon juga eskul ini tidak disukai sebagian guru dengan berbagai alasan. “Sayang”-nya setiap sekolah menghelar acara perpisahan untuk kelas tiga yang dinyatakan lulus, kehadiran seni karawitan dan tari sudah seperti keharusan untuk ditampilkan. Setiap acara perpisahan pula aku selalu dilibatkan. Kelak aku juga merasa gembira karena pada angkatan adik kelasku keberadaan eskul Karawitan resmi diakui.
Selain acara perpisahan, sekolah juga punya program pentas seni. Pada acara itu aku juga selalu dilibatkan. Bahkan kelompok tari angkatanku pernah mewakili kabupaten ke tingkat provinsi. Prestasi ini membuatku memperoleh dukungan banyak teman, terutama terkait jatidiriku. Untuk kebaikan itu aku tak pernah lupa untuk berterima kasih kepada mereka yang mendukungku untuk terus bertahan.
Lebih dari bangga, pengalaman ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Tidak mudah bagi seseorang yang dianggap liyan dala sebuah lingkungan memperoleh perlakuan yang adil. Mengatakan bahwa di dunia ini tak ada yang seragam mungkin saja mudah. Tapi ketika kita dianggap liyan dalam satu lingkungan, kita harus punya keberanian dan keteguhan yang kuat untuk menghadapinya dengan sikap terjaga. Tentu juga dengan usaha keras dan sikap yang cerdas. Aku belajar untuk tidak pernah berputus asa dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan meski aku tergolong anak yang emosinal.
Aku juga sadar bahwa pas satu sisi berjuang untuk bisa diterima oleh lingkungan yang berbeda bukanlah hal mudah. Tapi pada sisi lain ia juga bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Selain itu aku merasa yakin bahwa di setiap tempat selalu ada orang baik yang bersedia memberikan dukungan. Karena itu aku juga percaya bahwa suatu hari perjuangan yang dilakukan dengan baik pasti membuahkan hasil.
Aku ingat kata bijak yang disampaikan oleh dosenku.  Kebaikan, katanya, selalu punya jalan sendiri untuk mencapai tujuannya. Tapi jalan itu harus diperjuangkan. Aku juga melihat sendiri pentingnya sikap  untuk tetap menghormati setiap orang apalagi seorang guru meskipun selama tiga tahun beliau telah memperlakukanku secara berbeda hanya karena menganggapku sebagai liyan yang mungkin tak boleh terlihat dalam pandangan hidupnya. Tapi lebih dari itu di akhir sekolah menengahku,  di balik langkah-langkah kecilku selama tiga tahun, aku melihat ada banyak orang menyadari bahwa isi dunia ini tidak seragam. Bersama mereka aku meyakini bahwa taman dunia hanya akan menjadi indah justru karena adanya perbedaan. Ya  berbeda itu indah.

*) Mahasiswa ISIF Prodi Ekonomi Syari’ah Semester I

Sabtu, 07 November 2015

IBU KAULAH KEBAHAGIAAN KU

Di antara semua bintang hanya kejoralah yang paling indah
Di antara beribu orang hanya ibulah yang paling ku sayang
Bagaikan bulan tinggi diatas langit hanya bisa kutatapi dikala malam
Gemercik air hujan menyaksikan betapa bersyukurnya diriku
Memiliki seorang ibu yang menjadi panutan dalam hidupku
Keelokan bunga mawar memberikan warna dalam hidupku
Seperti ibu yang menjadi perisai dalam hidupku
Ku basuh kakinya lalu ku cium
Di bawah telapak kaki ibu adalah surga bagi diriku
Di bawah pohon yang rindang seberkas cahaya telah mendekati
Namun sang predator telah menghalanginya
Bak gunung menjulang tinggi nan kokoh dikelilingi daun yang berguguran
Pesona pelangi yang indah telah menghiasi bumi ini
Bersama impian ini ku mengukir sebuah harapan indah nan cemerlang
Debur ombak yang menerjang takkan mampu mematahkan impianku
Kobaran api  yang membara takkan mampu memadamkan semangatku
Berlian ini akan ku jaga seperti aku akan menjagamu ibu...
Seekor burung terbang tinggi menuntun langkahku untuk selalu menghormatimu
Ibu...
Kau bagai matahari yang selalu bersinar dalam hidupku
Sebuah duri takkan mampu menorehkan luka
Seperti pena yang mengotori temannya
Semilir udara menyentuh kalbu membuatku merasa nyaman bila berada di dekatmu ibu...
Asap itu takkan mampu menghalangi pandanganku untuk selalu berbakti kepadamu
Pancaran cahaya menyinari sebongkah mutiara yang berkilau
Sebening embun pagi yang menetes di daun talas
Kutuliskan sebuah harapan pada secarcik kertas tentang impianku
Semoga sang ilahi robi selalu melindungimu dimanapun engkau berada
Terima kasih ibu, atas segala pengorbanan yang telah engkau berikan
Aku sealu mencintaimu ibu
Lebih dari segalanya


*) ditulis oleh Aisyah Nur Aini (Mahasiswa Semester 1 prodi Ekonomi Syariah  ISIF