Selasa, 24 November 2015

Cirebon: Kota dalam Etalase
Oleh Sep Andry*

Hari itu adalah hari yang terlalu biasa. Jam 11.40 WIB, tepat ketika matahari lurus-vertikal di atas ubun-ubun, Kota Cirebon terbuat dari lalu-lalang kendaraan, bau knalpot, suara bising, dan udara bersuhu 31˚C. Satu kondisi yang hanya pemilik mental nabi yang melaluinya tanpa keluh kesah dan sumpah serapah.
Tapi saya, seperti juga masyarakat Cirebon yang lain adalah manusia biasa. Berada di jalanan kota cirebon di jam-jam rawan kehilangan sabar macam itu aneh rasanya kalau tidak sambil menggerutu, memencet klakson panjang ketika terjebak macet, atau marah-marah ke sopir angkot yang seenaknya berhenti di tengah jalan.
Di situ saya jadi ingat pernyataan seorang pejabat pemerintah Kota Cirebon di salah satu media. Konon menurut dia, kota Cirebon sekarang sedang bergegas menjadi kota besar. Berbagai proyek pembangunan sudah dan sedang dilakukan. Kemudian ia melanjutkan pernyataannya dengan nada keimanan yang kaffah: “kemacetan dan kesemerawutan di beberapa ruas jalan Cirebon adalah tanda bahwa kota ini akan menjadi kota besar”. Setelah membaca itu saya hanya bisa berharap, semoga tanda-tanda kiamat tidak makin banyak.
Yang pasti, saya tidak berniat mencari hubungan ilmiah apalagi hubungan gaib antara kemajuan kota dan kemacetan sebagai indikatornya. Rasanya, tukang riset sekelas alumni ISIF pun akan kewalahan kalau harus meneliti itu. Tapi bagaimanapun, wajah Cirebon di media menyoal rencana pembangunan jauh lebih optimis dan menjanjikan ketimbang realitasnya.
Membaca cirebon di media-media lokal, dengan segala macam rencana pembangunannya, ibarat menyaksikan iklan perumahan ala Feni Rose di Metro TV: menjanjikan hunian nyaman, akses yang mudah, fasilitas lengkap, dan berbagai macam hal baik lainnya yang bisa kita semua rasakan. Nalar advertorial memang paling bisa menghibur dan menjanjikan: Melihat sedikit kebaikan dari satu hal, membesar-besarkannya, kemudian menihilkan hal-hal buruk yang menyertainya. Bagian ini, media lokal kita jagonya.
Sejauh ini media lokal kita tak lebih dari sehimpun advertorial yang genit menggembar-gemborkan pembangunan kota Cirebon, dengan mengutip data sana-sini, namun minim analisa apalagi rasa.
Tentu butuh lebih dari nalar advertorial untuk terus mengawal arah pembangunan kota Cirebon. Juga tak mungkin mengandalkan media lokal kita yang mentok pada gaya penulisan ala zaman kompeni (straight news) dengan kutipan-kutipannya yang kering analisa, kering rasa. Ketika membaca, saya membayangkan wartawan kita menulis berita-beritanya dengan wajah polos tanpa dosa, dengan tatapan kosong sedikit ngantuk, sambil sesekali ketawa jahat: Mirip pengidap psikopat yang kurang ngopi.
Sedangkan di luar sana, yang mereka tulis sebagai pembangunan tengah berlangsung dengan suka cita: setiap minggunya, ada lebih dari 2 hektar tanah kota Cirebon berubah menjadi hamparan beton dan etalase. Sampai 2014 saja, lebih dari 1600 hektar dari 3800 hektar luas keseluruhan kota Cirebon yang sudah dijadikan pusat perdagangan dan jasa (BAPPEDA KOTA CIREBON, Kompas.com). Dan tentu jumlah tersebut masih terus bertambah di tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, mengingat syahwat bangun-membangun pemerintah kota kita masih meluap-luap dan tak terkendali. Persis anak sma yang baru liat bokep.
Terhitung tahun lalu saja (2014) tak kurang dari 15 investor yang sudah mengantri dan bersedia menginvestasikan uangnya di kota Cirebon (DPUPESDM Kota Cirebon, kompas.com). Tercatat ada lebih dari 94 ajuan untuk penggunaan lahan dan yang sudah mendapat ijin ada 47 ajuan, yakni 23 hotel dan 22 perumahan (BAPPEDA, Data 2013). Itu semua data shahih, keluar dari mulut pemerintah kita dengan nada bangga tingkat dewa.
Selesai di angka itu? Belum! Ada proyek senilai Rp.38 triliun untuk menyangga kegiatan bangun-membangun di kota ini: tol Cipali (Cikopo-Palimanan) (Rp.12,56 T), yang konon menjadi tol terpanjang di negeri ini. Kemudian proyek Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, di Kabupaten Majalengka (25,4 T) yang memakai lahan 5000 hektar. Dua proyek itu lah yang akan memberi akses penuh bagi percepatan pembangunan di kota Cirebon. Bahkan jauh lebih cepat sebelum kita lupa bahwa ada pejabat di kota ini yang merasa telah tinggal di kota besar saat terjebak macet.
Setiap kota adalah manifestasi dari peradaban. Ia adalah konsekuensi logis dari hasil dialog antara berbagai elemen yang membangunnya, entah itu masyarakat, lingkungan hidup, kehidupan sosial-ekonomi-politik, dan tentunya sejarah sebagai akar yang menjalar-erat-kan hari ini dengan masa lalu. Dari situ lah logika pembangunan semestinya bertolak.
Menerjemahkan pembangunan kota hanya sebatas tembok dan beton hanya akan memisahkan kota dengan masyarakatnya, masyarakat dengan lingkungannya, serta lingkungan dengan sejarahnya. Elemen-elemen kota akan remuk akibat benturan kepentingan pemodal. Sudah semestinya pembangunan di kota Cirebon memiliki keberpihakan kepada masyarakat dan ruang hidup yang melingkupinya. 
Karena bagaimanapun, Kota adalah ruang materi sekaligus non-materi bagi orang-orang yang menghuni di dalamnya. Ia tidak hanya bentangan lahan ataupun seperangkat ornamen sebagai penanda kebudayaan dan geliat peradaban suatu tempat saja. Namun, kota juga merupakan suatu lanskap bagi imajinasi para penghuninya: tempat kita secara intim bersentuhan dengan realitas hidup kita, mengenalinya, dan turut menentukan arah perubahan yang akan terjadi.
Namun berada jalan utama kota ketika matahari tepat di atas ubun-ubun, dikepung oleh hiruk pikuk lalu lintas dan gegap gempita proyek pembangunan membuat saya sadar, kota ini tengah bergegas menjadi sesuatu yang asing. Kita seperti tidak lagi hidup di dalam kota, tapi di dalam etalase: yang segalanya bisa di jual, termasuk ruang hidup kita sebagai masyarakat kota. []


*Mahasiswa ISIF, jurusan Filsafat Agama

1 komentar:

  1. tulisan ini ko terbit dimana-mana, ada di www.lpmfatsoen.com juga ada

    BalasHapus