Rabu, 11 November 2015

Mengenang Pengalaman Diperlakukan sebagai Sang Liyan di Sekolah



Mengenang Pengalaman
Diperlakukan sebagai Sang Liyan di Sekolah

Oleh : Kinanti Suarsih*)

 Tidaklah mudah menjadi seseorang yang diperlakukan sebagai liyan di tempat kita menjalani kehidupan sehari-hari. Apalagi hal itu terjadi pada masa remaja pada saat menempuh pendidikan yang hasilnya diharapan menjadi bekal menyongsong masa depan. Hidup bahkan menjadi terasa sangat berat manakala para guru, pendidik yang kita hormati, justru terus-menerus memperlakukan kita secara berbeda hanya karena kita menganut keyakinan yang berbeda.
Semua berawal saat aku memasuki bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan)  di kampung halamanku di Kabupaten K. Sebenarnya aku selalu menganggap sekolah sebagai rumah kedua. Rasa seperti itu muncul sejak aku duduk di bangku SMP. Aku selalu menganggap para guru sebagai orangtua kedua dan teman-teman sekolah sebagai kakak-adikku sendiri.  Namun apa jadinya jika di rumah kedua itu, selama tiga tahun beberapa guru memandang dan memperlakukanku secara berbeda “hanya” karena aku menganut keyakinan yang berbeda? Pengalaman itu menancap kuat pada ingatanku bahkan kesadaranku hingga hari ini.

Aku, Sunda Wiwitan
Hari Senin, 16 Juli tahun 2012 adalah hari pertama aku masuk sekolah baru. Aku menyambut hari itu dengan antusias. Bagiku bertemu teman-teman dan guru baru selalu menjadi hal yang mengesankan. Aku yakin hal yang sama juga terjadi pada banyak remaja seusiaku.
 Namun kenyataan berbicara lain. Berbeda dengan teman-teman lain yang menurutku mendapatkan kesan manis pada hari pertama bersekolah, aku justru mendapatkan hal sebaliknya. Semua dimulai ketika seorang guru yang kemudian menjadi wali kelas memasuki kelas kami. Aku masih ingat, saat itu perhatianku terus tertuju kepada beliau. Aku juga ingat pelajaran pertama yang beliau kerjakan di kelas setelah mengucapkan salam dan selamat datang: perkenalan.
Ada yang menarik perhatian kami ketika acara perkenalan berlangsung. Setelah menyebutkan nama sesuai dengan urutan yang ada pada buku presensi --kami menyebutnya daftar absen-- Wali Kelas menanyakan hobi atau kesukaan siswa yang dikenalkan. Perkenalan dimulai dengan cara memanggil siswa yang namanya dimulai dengan huruf A. Namaku sendiri dimulai dengan huruf K sehingga harus menunggu giliran sesuai abjat.
Tibalah giliran itu. Sama seperti siswa lain aku ingin namaku dipanggil kemudian diperkenalkan dan ditanya hobi atau kesukaanku. Aku juga sudah menyiapkan jawaban.  Itu wajar karena setiap siswa pasti ingin diakui keberadaannya di sekolah. Tapi dalam sekejap aku mulai merasakan keanehan. Terasa terjadi perbedaan perlakuan. Kepadaku Wali Kelas mengajukan pertanyaan lebih dibandingkan pertanyaan untuk siswa lain. Beliau tidak hanya menanyakan hobi atau kesukaanku, tetapi juga bertanya, “Apakah aku bukan Muslim?” Mungkin pertanyaan itu beliau ajukan karena cara berpakaianku. Aku tidak mengenakan kerudung seperti siswi lain.
“Apa keyakinanmu?” lanjut beliau. Aku mulai seperti diinterogasi. “Keyakinan saya Sunda Wiwitan, Pak,” jawabku sambil diam-diam melemparkan pandanganku ke teman-eman sekelas. Seluruh isi kelas tampak seperti keheranan. Itu terlihat pada wajah mereka. Anehnya keheranan mereka menular padaku. Aku juga merasa terkejut sekaligus terheran-heran. Apa yang salah pada jawabanku? Sejak duduk di SD hingga SMP tak pernah kutemui wajah seperti itu setelah aku mengatakan bahwa aku penganut Sunda Wiwitan.
Sunda Wiwitan? Itu mungkin pertanyaan yang ada di benak mereka ketika itu. Tapi akhirnya aku segera sadar bahwa diriku sedang berada di lingkungan orang-orang yang belum tahu adanya orang-orang yang memiliki keyakinan seperti kami.
Setelah kejadian itu banyak pertanyaan yang diajukan guru dan teman-teman. Aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan tenang. Kuakui pada satu sisi aku merasa senang memberikan jawaban atas  pertanyaan mereka. Tapi pada sisi lain aku merasa seperti alien yang baru turun ke bumi. Sunda Wiwitan itu apa? Memang ada agama seperti itu? Apa kitabnya? Di mana dan bagaimana cara beribadahnya? Bahkan jenis makanan yang kami konsumsi pun mereka tanyakan.
Sunda Wiwitan, kataku mulai menjawab pertanyaan, merupakan keyakinan masyarakat Sunda yang masih menjaga tradisi leluhurnya. Sebagian kalangan, kataku melanjutkan, menyebut kepercayaan kami sebagai agama lokal. Kami menyembah Tuhan Yang Mahaesa (YME). Kemudian untuk pertanyaan yang menyangkut tempat ibadah, aku  menjawabnya dengan ringkas bahwa kami bisa beribadah di mana saja dan kapan saja, setiap waktu. Sedang terkait dengan jenis makanan, aku menjawab singkat. “Sama seperti kalian, kami  juga makan nasi. Aku sama seperti kalian,” jelasku sambil tersenyum.


Mengambil Hati Guru
Hari-hari selanjutnya aku bertemu dengan guru-guru lain yang mengajar di kelas kami. Ketika itu aku sudah siap. Pasti akan ada pertanyaan lagi tentang keyakinanku. Ada hari yang membuatku tak akan bisa melupakan satu peristiwa  yang terjadi  seumur hidupku. Peristiwa itu adalah pertemuanku dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Guru Pkn! Saat mengawali perkenalan, tanpa asap tanpa api, Guru PKn tiba-tiba memanggilku dengan panggilan “Konghucu”. Saat itu aku tidak bisa menangkap maksudnya. Setelah memanggilku demikian, beliau bertanya apa agamaku. Aku menjawab singkat, “Sunda Wiwitan, Pak.” Sampai di situ tak ada pertanyaan lagi.
Tetapi pada pertemuan selanjutnya Guru PKn itu selalu memanggilku “Konghucu!”. Tindakan guru itu terus berlangsung hingga aku duduk di kelas tiga. Sering aku berpikir mungkin guru itu hanya ingin membuat lelucon atau membuat nama panggilan khusus untuk membuat suasana lebih akrab. Aku berusaha berpikir positif. Namun kemudian aku tahu bahwa semua murid yang tidak memakai kerudung beliau panggil dengan nama “Konghucu”.
Ketidakpahamanku berlanjut. Puncaknya terjadi saat sekolah menyelenggarakan acara halal bihalal di sekolah. Saat itu semua guru dan siswa sudah berkumpul di halaman sekolah. Setelah melewati berbagai acara seremonial tibalah kami pada acara saling memaafkan, antara guru dan siswa. Tak terkecuali aku. Tetapi saat giliranku bersalaman dengan Guru PKn, “ketu jutan” kembali terjadi. Ketika dengan hormat kedua tangan kuulurkan untuk bersalaman, beliau bertanya “Apakah Konghucu boleh bersalaman dengan yang lain?” katanya dengan sedikit tersenyum. Tapi senyuman itu tak dapat kupahami. Entah kenapa sejak itu aku tidak menyukai tindakan beliau. Aku langsung meninggalkan halaman sekolah. Bergegas ke kelas dengan hati tak karuan. Kelak ketika aku duduk di perguruan tinggi baru kupahami mengapa aku tidak menyukai tindakan beliau.
Sore harinya sepulang sekolah aku bercerita kepada orangtuaku tentang kejadian itu. Kedua orangtuaku sempat terbawa suasana cerita. Namun akhirnya mereka menasihatiku agar tidak menanggapi tindakan Guru Pkn dengan cara yang sama. Aku diminta tetap  bersikap santun dan hormat, dan tidak membuat masalah bertambah rumit. Aku terima nasihat kedua orangtuaku. Hari-hari selanjutnya aku selalu berusaha belajar dengan baik dan bertindak sopan. Meskipun hingga kelas tiga, Guru PKn itu tetap memanggilku “Konghucu” aku tetap bersikap sopan dan hormat kepada beliau.

Menjadi berguna melalui Seni Tari
Sejak terus-menerus menerima perlakuan sebagai liyan yang tidak diterima oleh beberapa guru, aku berpikir keras dan mencari cara agar keberadaanku diakui dan dihargai. Aku merasa belum cukup hanya dengan bertindak sopan. Harus berbuat lebih. Kegiatan ekstra kulikuler (eskul) Karawitan dan Seni Tari bisa menjadi jembatan. Dengan sadar aku memilih ekskul ini.
Di ekskul ini aku berlatih lebih keras dibandingkan teman-temanku. Apalagi aku sangat suka menari. Di komunitas Sunda Wiwitan, seni tari adalah salah satu kegiatan yang menurut pemahamanku menjadi salah satu budaya yang dirawat dengan baik. Bagi kami, khusunya kaum perempuan Sunda Wiwitan, seni tari adalah salah satu bagian dari budaya inti yang dirawat dengan baik.
Aku memang menerima informasi bahwa keberadaan eskul Karawitan masih dipersoalkan di sekolah.  Informasi yang kuterima menyebutkan bahwa belum semua koordinator  ekskul menerima kehadiran bidang yang satu ini. Konon juga eskul ini tidak disukai sebagian guru dengan berbagai alasan. “Sayang”-nya setiap sekolah menghelar acara perpisahan untuk kelas tiga yang dinyatakan lulus, kehadiran seni karawitan dan tari sudah seperti keharusan untuk ditampilkan. Setiap acara perpisahan pula aku selalu dilibatkan. Kelak aku juga merasa gembira karena pada angkatan adik kelasku keberadaan eskul Karawitan resmi diakui.
Selain acara perpisahan, sekolah juga punya program pentas seni. Pada acara itu aku juga selalu dilibatkan. Bahkan kelompok tari angkatanku pernah mewakili kabupaten ke tingkat provinsi. Prestasi ini membuatku memperoleh dukungan banyak teman, terutama terkait jatidiriku. Untuk kebaikan itu aku tak pernah lupa untuk berterima kasih kepada mereka yang mendukungku untuk terus bertahan.
Lebih dari bangga, pengalaman ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagiku. Tidak mudah bagi seseorang yang dianggap liyan dala sebuah lingkungan memperoleh perlakuan yang adil. Mengatakan bahwa di dunia ini tak ada yang seragam mungkin saja mudah. Tapi ketika kita dianggap liyan dalam satu lingkungan, kita harus punya keberanian dan keteguhan yang kuat untuk menghadapinya dengan sikap terjaga. Tentu juga dengan usaha keras dan sikap yang cerdas. Aku belajar untuk tidak pernah berputus asa dalam memperjuangkan nilai-nilai kebaikan meski aku tergolong anak yang emosinal.
Aku juga sadar bahwa pas satu sisi berjuang untuk bisa diterima oleh lingkungan yang berbeda bukanlah hal mudah. Tapi pada sisi lain ia juga bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Selain itu aku merasa yakin bahwa di setiap tempat selalu ada orang baik yang bersedia memberikan dukungan. Karena itu aku juga percaya bahwa suatu hari perjuangan yang dilakukan dengan baik pasti membuahkan hasil.
Aku ingat kata bijak yang disampaikan oleh dosenku.  Kebaikan, katanya, selalu punya jalan sendiri untuk mencapai tujuannya. Tapi jalan itu harus diperjuangkan. Aku juga melihat sendiri pentingnya sikap  untuk tetap menghormati setiap orang apalagi seorang guru meskipun selama tiga tahun beliau telah memperlakukanku secara berbeda hanya karena menganggapku sebagai liyan yang mungkin tak boleh terlihat dalam pandangan hidupnya. Tapi lebih dari itu di akhir sekolah menengahku,  di balik langkah-langkah kecilku selama tiga tahun, aku melihat ada banyak orang menyadari bahwa isi dunia ini tidak seragam. Bersama mereka aku meyakini bahwa taman dunia hanya akan menjadi indah justru karena adanya perbedaan. Ya  berbeda itu indah.

*) Mahasiswa ISIF Prodi Ekonomi Syari’ah Semester I

2 komentar:

  1. Pengalaman yang menarik, kalau difilmkan bisa dapat Eagle Award ini. Apakah program studi Ekonomi yang diambil sejalan dengan ekonomi menurut Sunda Wiwitan?

    BalasHapus
  2. hi pak, maaf baru membuka blog ini, untuk pertanyaan Bapak sebenarnya saya kurang berwenang menjawab atas nama mahasiswa dari Sunda Wiwitan. Tetapi sekedar berbagi program studi ekonomi syariah di ISIF menitikberatkan prinsip2 Islam dalam ekonomi yakni kejujuran, keadilan, non eksploitasi baik kepada manusia maupun alam. Kami mengembangkan dialog dalam berbagai perspektif termasuk dari Sunda Wiwitan, dan hal itulah yang mungkin mendorong kawan2 sunda wiwitan untuk studi di ISIF.

    BalasHapus