Jumat, 29 Januari 2016

Cerpen : Teroris (Karya Nurlaela)



       Laki-laki  jangkung  berkulit  sawo matang dengan rambut tergerai–gerai  melintas di depan sekelompok remaja yang sedang menghabiskan malamnya di gardu yang letaknya di belokan jalan masuk  atau disebut juga gang.  
        “ Eh Ji! Mau kemana?” Laki-laki jangkung itu seperti tidak peduli dan berusaha menghindari.  “ Weh , ini urusanku ya. Emang mau apa kau nanya-nanya? “ Tarmuji yang katanya saat ini kuliah di ISIF (Institut Studi Islam Fahmina ) Cirebon, akhir-akhir ini dia tidak lagi ikut nongkrong di depan gardu. Semua teman-temannya merasa kehilangan so karena dialah yang paling asyik untuk diatur-atur gitu. Ha...ha..haa tepatnya dikerjain, dijailin, dikibulin alias kacung. Sehari-hari dia membantu ibunya di pasar yang jualan lontong sayur. Tarmuji biasa membantu ibunya: mencuci piring dan mangkuk kotor bekas pembeli, ia juga biasa membantu ibu mengupas sayur mayur seperti terong, timun atau labu  atau harus membantu ibu membeli bumbu masak yang kurang . Tarmuji adalah anak yang patuh pada Ibunya.
         Malam ini meski tak ada Tarmuji tapi Kombeng alias Komar, Loleng alias salam, masih setia menemani aku asal saja ada gudang garam merah dan secangkir kopi Bro!. Jadi kita nongkrong. Kita memang pengaguran terselubung. Gaul itu perlu untuk tambah wawasan kita. Iyakan? Coba kalau kita Cuma di rumah apa tahu ada cewek berhijab tiap hari lewat depan gardu aja gak bakal tahu. Apalagi identitasnya.Kalau gaulkan bisa dapat info dari sana- sini. Kita patungan cari info tentang tuh gadis. Walhasil   siapa yang bisa nembak duluan itu lain persoalan yang penting nich ada usaha. Biar tidak dibilang laki-laki cemen!.
        “ Tuh... lihat setiap malam kayak gini, kerjaan dia ada aja. Emang dia mau jadi apa setelah kuliah? Sarjana aja udah banyak,  kerjanya jual sandal cepit dipasar Senin. Akh!, koplak alias gak encer otaknya. Mending kayak kita begini, makan tinggallah makan , minum tinggallah minum, tidurpun sudah dirapihkan pulang malam-malam, Uang tinggal bilang....sialnya kalo dapat omelan tapi anggap aja OSPEK mirip Tarmuji biar tahan bantingan” Komar yang meliahat sehari-hari Tarmuji mulai jarang dirumah bersungut-sungut.
         “Beng, ngomong- ngomong nih bagaimana kalau kita samperin si Tarmuji di rumahnya.Yuk!”
         “ Sekali ini yah !” Salam rupanya merasa kurang seru juga selama ini karena tidak ada yang jadi tumbal kekonyolannya. Persahabatan kita hampir lewat tiga tahun  sejak kelas dua SLTA kita membuat Geng Reparasi yang tujuannya ngumpulin tuh anak gang yang kerjanya nongkrong di Wanet terus seharian. Ibu-ibu semua kagum sama kita, karena  jadwal makan mereka jadi teratur. Tidak hanya itu anak-anak mereka juga rajin ngaji di musholla. Kalau urusannya musholla akhirnya jadi biangnya malas. Komeng yang juara adzan di SMA nya saja masih dibilang kurang betul melafalkan lafadz Akbar ketika beradazan, apalagi aku siKardun alias Khaeruddin yang baru kenal ngaji karena wajib bisa baca Al Qur’an di SMA dulu , itupun aku belajar dari  Salam. Dari pengalaman itulah aku mau ngajak anak-anak disekitarku untuk mengaji dari pada Warnetan teruskan kasian , Otaknya kagak jalan. Main digit teruss badan sampai tak terurus, mandi kagak, makan kagak. Itu keluhan dari ibu – ibu waktu itu. Sekarang malah kita yang terasing dimushollah.
         “ Malas, udah banyak orang pinter ,bu” Suatu hari aku ditanya oleh salah satu ibu yang dulu anaknya ngaji sama kita.
         “ Betul, kita cuma bisa  surat Al fatihah aja udah berlagu.Maaf-maaf deh, bu”. Kita sebenarnya asyik bersama anak-anak mereka. Kita juga yang mengajarkan disiplin untuk datang ke musholla tepat waktu. Mengaji, sholat, dan belajar kelompok setiap usai sholat dzuhur. Yang punya PR diselesaikan bersama setelah itu baru boleh main game bersama.Tarmujilah yang punya laptop waktu itu. Tarmuji walaupun bukan anak STM tapi jago reparasi barang-barang elektro yang suka bantuin ibu-ibu juga.  Nah...itu laptop adalah barang bekas yang dihibahkan berkat tangan dinginnya Tarmuji kita bisa membahagiakan anak-anak. Makanya mereka sangat menyayangkan kita.
         “ Bagaimana kalau Tarmuji tidak mau lagi gaul bareng kita. Diakan sudah punya kesibukan tidak seperti kita wiraswasta” dalih Komar yang rumahnya berdekatan dengan Tarmuji.
            “Hah, apaan sih loe, Beng. Pengangguran aja ngaku wiraswasta”aku kurang suka.
         “Hus! Tidak usah berdebat. Itu etika kita, jangan pasrah sama keadaan. Meski pengangguran jangan mencolok mata. Nanti mau lho,disedekahin?” Salam berkilah. Aduh –aduh repotnya penganguran yang berpendidikan masih aja mikir adat, gak punya masih ogah menerima sedekah. Beda bangetkan sama mereka yang tidak mengecam pendidikan ketika mereka sebagai pengangguran biasanya cukup meresahkan. Panjang tangan, Tawuran , belum juga ngisengin anak orang.
     “Ya sudah, mari kita samperin di rumahnya sekarang!”ajak Komar bersemangat.Tanpa mengucapkan salam kita bertiga sudah masuk , dan sedikit berisik saling menyalahkan.
         “ Kagak sopan loe!” aku bersungut-sungut tak enak hati masuk rumah orang tanpa permisi. Begini-begini dulu jadi aktivis musholla.Aku membatin.
         “ Udah, bodo amat kita udah terlambat”. Salam membela diri. Sementara Komeng tampak heran mengapa rumah ini sangat sepi. Lamat-lamat terdengar suara ibu Ningsih tebatuk –batuk dari dalam kamarnya.
          “ Silahkan masuk saja.Tunggu, sebentar lagi Tarmujinya datang”
          “ Oalah... ibu Ningsih masih mengenali bau-bau kita!” Celoteh salam.Komeng menyikut tubuhku.Tampak kesal rautnya. Hah, aku berjingkat-jingkat. Kita sepakat menunggu sampai bertemu Tarmuji.
          “ Kita bakal reunian”. Bermalam minggu disini . Tak apa aku tak melihat Lastri lewat biasanya jam –jam ini gadis berjilbab itu masuk gang melewati gardu tempat tongkrongan kami. Kabarnya dia punya kegiatan mengeles anak-anak di tangga desa.Tak berapa lama Tarmujipun datang.
          “ Assalaamu’alaikum....,ada acara apaan nich. Sudah lama ya,kalian menunggu?.Maaf, ayo kita pindah keteras saja biar enak ngobrolnya. Kasihan ibuku sedang kurang enak badan”. Tarmuji menanggalkan petnya.  Lalu tangannya dengan sigap menuangkan air putih disetiap gelas-gelas dihadapannya.
          “ Ini pola hidup sehat bermula dari air putih. Gaya hidup irit bukan pelit.Setujukan?”Tarmuji kini seperti sedang mendikte. Tapi bernada kelakar juga. Kami terheran-heran dan bingung. Pemikiran untuk mengajak gabung di tongkrongan tiba-tiba padam. Kami semua terdiam. Asing dan segan.
            “ Ayo , diminum seadanya. Ini kue satu terbuat dari bahan nomer satu di Indonesa , kacang hijau. Kalau ini kamu pasti tahu ini nastar kacang tanah”. Inilah cara Tarmuji mencairkan kebekuan malam itu. Akhirnya karena kue-kue ini keakraban yang merenggang serasa disatukan kembali. Kami bersatu dalam gelak dan tawa. Suasana yang menyenangkan kembali aku rasakan jadi, sebenarnya gardu tempat tongkrongan kita adalah satu-satunya tempat yang bisa menyatukan pemikiran-pemikiran kita yang muncul dari kekecewaan dan jauh dari harapan.Madesu (Masa depan suram) adalah bukan cita-cita dan harapan kita dulu.Tapi menjadi orang yang bergunapun, bagaimana caranya. Majelis Marhabanan  kita dibubarkan katanya bid’ah. Pengajian anak-anak najis tidak tahu bersuci, Tahlilan katanya kafir karena mengharapkan syafaat dari kanjeng Nabi Muhammad, apalagi Ziarah kubur syirik besar .  Apa yang bisa kita lakukan? Pendidikan kita hanya SLTA . Kita bukan kiyai, pejabat, atau konglomerat. Kami tak punya dalil-dalil  dan teori yang pas untuk berdebat dengan mereka.
           “ Menurutmu bagaimana Ji?”  aku, Kardun bersuara karena serasa  hidupku semakin tak berguna dan rasa kagum pada Tarmuji. Dia tenang tapi bicaranya meyakinkan.
        “ Yang begituan tidak usah diurusi, Urusi diri sendiri. Kita mau kemana? Dan bagaimana?”jawab Tarmuji enteng.
             “ Lho, bukannya kita juga sedang memikirkan nasib kita dan apa yang harus kita lakukan? Kita berbuat baik saja dicemooh orang, didebat, difitnah dan disakiti. Diam saja seperti ini diamarah-marahin pak RT katanya kita nih sampah masyarakat. Lalu kita bagaimana Ji? Loekan sekarang udah pinter bantu aku dong, masa kamu tega melihat kita begini” Komar nyerocos panjang lebar. Sementara aku dan Salam hanya mengiyakan. Mengaguk-anggukkan kepala saja.
             “ Iya, bagus itu. Hari ini persoalan itu tidak bisa diselesaikan. Kita butuh waktu banyak, nanti kita bicara lagi. Munculkan pikiran positif yang membuatmu semangat , Bro!” tangannya menyambar kaos yang masih tergantung di kapstok luar lalu , membungkus sebagian wajah dan kepalanya  lalu mengikatnya kebelakang.
              “ Maaf, saatnya saya harus keluar lagi. Kita bisa ketemu lagi. Okey, Bro..., aku tinggal dulu ya’’ . Sepeda bututnya dikayuh kencang. Tak habis pikir melihat sikap dan prilaku Tarmuji saat ini, malam-malam begini dia masih saja ada urusan. Paling-paling para dedemit yang mau melayani.
            Dengan rasa kecewa kami menuju tempat tongkrongan kembali. Pembahasan kita kali ini sikap-sikap yang mencurigakan dari prilaku Tarmuji tadi. Sepertinya dia sudah yakin benar jadi orang. Maksudku sepenting apakah hingga dia tidak sungkan-sungkan meninggalkan kami.
           “ Betul, kita harus waspada. Akhir-akhir ini ada banyak mahasiswa yang tercuci otaknya dan dimanfaatkan oleh oknum untuk kepentingan golongan radikal”aku berargumen.
           “ Maksudmu Teroris?” mata salam terbelalak, celingukan tidak karuan.
           “ Iya , Pao!!, masih tanya. Enggak update amat”. Komar mulai ganas.
           “ Kalau begitu kita punya pekerjaan berat. Bayangkan saja kita adalah anggota gabungan yang mengincar dia. Kita selidiki  dan kau bisa ikuti kapan dia keluar...?”
           “ Lalu pekerjaan ini siapa yang mau gaji?, kurang kerjaan akh! Aku ogah.” Salam keberatan.
            “ Otakmu harus disumbat pake roti baru maju”Komar semakin geram.“ Bagaimana mau memecahkan persoalan kita sendiri kalau buat perut sejam saja masalah melulu dengan kamu” sambungnya.
           “ Sudah jangan adu otot lagi , kita belajar berfikir kerja pake otak. Bagaimana caranya agar kita bisa mengetahui apa saja yang menjadi kesibukannya selama ini” aku melerai Komeng dan Salam yang bersitegang.
          “ Tapi tujuan awal kita hanya ingin mengajak Tarmuji mau nongkrong, minum kopi bareng kita. Bukan pekerjaan macam detektif gitu. Kalau ini namanya persoalan serius”
             “ Iya , lalu maumu bagaimana?”tanyaku masih bersabar.
         “ Ajak aja dia nongkrong dengan kita. Kalau tidak mau ...ya sudah. Selesai gak ada urusan peduli amat entah dia teroris, atau dia sedang  merencanakan sesuatu, pembawa bom bunuh diri kek, otaknya semua berisi jihad kek”
           “ Nah , orang macam ini yang perlu dibumi hanguskan. Kenapa , jadi tidak lagi mau mengakui Tarmuji itu sahabatmu tho? ” akhirnya terpancing juga emosiku. Aku pergi meninggalkan Komeng dan Loleng. Hari ini amat menyebalkan bagiku.
           Kutinggalkan teman-temanku dan kususuri jejak sepeda Tarmuji. Jalan berkelok-kelok sampai menuju sebuah sumur tua.Waduh..., apa betul ini jalan yang dilalui Tarmuji barusan , jejak ban sepeda menggelinding satu arah di jalan yang becek.Tapi apakah betul hanya dia yang melewatinya malam ini. Hatiku penuh tanya. Langkahku terhenti. Aku berfikir , selama ini penduduk kampung Asri sudah tidak lagi bergantung pada sumur Tua yang ada di tengah persawahan itu. Hanya kadang-kadang jika kemarau panjang beberapa penduduk menimba airnya untuk minum dan kegiatan rumah tangga lainnya. Dulu hampir semua penduduk dalam kegiatan cuci mencuci akan mendatangi sumur itu. Lalu  apa yang dilakukan Tarmuji malam –malam begini ke arah persawahan yang tidak biasanya dilakukan oleh penduduk ini. Rasa penasaran ini semakin mendorongku untuk cepat menemukannya. Kususuri jalan setapak dalam kegelapan. Terlihat dari kejauhan lampu senter berubah-ubah arah. Aku mengikuti arah sumber cahaya itu.Jalanku terseok-seok dan licin diatas pematang . Tubuh menjulang itu merambat menjauh dari kejaranku dan menuju sebuah dangau kecil. Pohon besar tampaknya seperti raksasa yang siap menghadang kehadiranku. Akan memangsaku, huh... aku bergidik. Siapa pula orang yang ada dalam dangau itu? Aku melihat sekelilingnya tampak sebuah benda yang aku kenal . Ya, sepeda Tarmuji tersandar di pohon itu. Aku girang.
          Aku mulai memberanikan diri menghampiri dangau itu. Sreetttt....! Cahaya lampu senter mengarah ke kakiku.
          “ Hai ,Din Mau kemana malam-malam begini?”Tarmuji terus mengasah pedangnya yang panjang .
            Aku agak jauh berdiri. Untuk apa pula ia mengasahnya.
         “ Silahkan duduk. Mana teman-teman yang lain?. Hari-hariku aku bertempur dengan kadaan. Din , aku mau bersusah payah ini demi meraih kemerdekaan, yah kemerdekaan yang dulu diraih bangsa kita dengan susah payah kini digadaikan dengan hutang-hutang luar negeri. Bayi yang baru lahir kemarin saja sudah memikul beban hutang negara, kalau ini yang terjadi, kapan kita akan sejahterah. Aku punya cara agar beras tidak lagi mahal harganya. Kau tahu ibuku hampir seumur hidup berjualan lontong, Harga beras akhir- akhir ini tidak terbeli ibuku, karena harga naik turun tidak karuan. Ibuku sakit-sakitan lelah memikirkan perputaran modal dan keuntungan. Sementara bubur sayur ibuku tetap dua ribu rupiah. Coba kau pikirkan apa yang membuat aku mengolah sendiri tanah warisan kakekku ini?, bertahun-tahun lahan ini disewakan berkali-kali ia panen aku... dan ibuku sebiji beraspun tak merasakan manisnya rasa dan harum wanginya beras sendiri. Berton- ton beras yang mereka panen bukan lagi untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat kita, mereka tergiur dengan harga, menimbunnya sampai musim panen berikutnya. Sementara, Ibuku dapat pasokan beras Bulog yang harganya sama dengan pasar, kau tahu... itu beras subsidi mengapa Raskinpun harus diper jual dibelikan?”Aku terdiam mendengar ocehanya yang seakan tidak memberi ruang jeda.
         “ Yah... bagaimana lagi, aku tidak usah mikir kayak gitu lagi, Sing penting ana duite to?, repot kayak ngono”. Aku mulai nyeleneh.
        “ Masalahnya itu. Nilai Rupiah kita rendah, nilai nominal dengan nilai tukar tidak seimbang. Apa berarti uang sepuluh ribu?  Sekarang mau minum saja kita pakai pajak .....”. Kata-katanya terputus, dalam keremangan lampu senternya dia seperti berpikir dalam.
         “ Sudahlah merubah sistem itu sulit, kita mulai dari diri kita apa yang bisa kita lakukan agar tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain. Ketahanan pangan kita tidak pantas jebol dan ditutup-tutupi oleh luar negeri. Dimana mereka punya lahan persawahan seluas negeri ini, Ironis bukan? Ilfiil dan mustakhil kita tak berdaya”.
       “ Besok ada kumpulan menggalang Pemuda Desa untuk pembaruan desa kita kamu bisa ajak teman-teman ke Balai Tani”.
       Matahari mulai condong ke barat, sudut desa Asri tampak semakin indah. Taman  mulai menghijau dialun-alun sebagai  jantung kota harapan entah mungkin sepuluh tahun yang akan datang , Setelah  aku menjabat Gubernur paling tidak  Kepala Desa paling muda. Aku terbuai dalam impian Tarmuji yang berhati mulia dan benar-benar cerdik. Kini aku mulai minat membolak-balikakan brosur pendaftaran mahasiswa baru ISIF yang katanya mengedepankan Riset dan Transformasi Sosial. Wajah Lastri gadis yang selalu aku idam-idamkan selama ini akan menjadi motifasiku untuk maju selangkah. Yah, ernyata gigihnya tak kurang dari Tarmuji sebagai laki-laki. Lincahnya dia memandu acara siang tadi membuatku iri berdampingan dengan Tarmuji.
         “ Sudah malu ya, nongkrong di gardu? Tidak pengen ganggu dia lagi?”aku memecah sunyi. Ternyata Lastri itu teman  Tarmuji,  aktifis mahasiswi ISIF.
             “  Iya, aku malu, kurang kerjaan”Komeng mulai jernih otaknya.
         “ Aku juga. Berarti dugaan kita selama ini salah, kenapa tiba-tiba mencurigainya Teroris. Ha...ha...ha... termakan keadaan sekarang”. Tawa salam membahana di ujung langit. Meneriakkan sebuah kemenangan atas jalan yang harus dipilih untuk mengantar kita kegerbang masa depan. Kami bersemangat mengusir gelar pak RT yang disandangkan dipundak sampah masyarakat. Sangat setuju bahwa kita belajar dari siapa saja, dari orang dianggap lemah dan remeh sekalipun.[]
             
 *) Nurlaela, mahasiswa ISIF Prodi PAI semester 3

1 komentar: